"Welcome to My Gallery"

"All the pictures and the information in this website is protected by COPYRIGHT laws of the Republic of Indonesia Number 19 - Year 2002. And Copyright of all images on this site are owned and in Control by Reza Juanda as a photographer. If you Want to Use One Of the Pictures, Please contact the owner of these photographs in Email: rezaphotograph@gmail.com | cell phone: +6285265600855 "

Kamis, 08 Maret 2012

Rohingya Refugees in The Exile


Again, for the umpteenth time, a boat containing 55 illegal Rohingya migrants who fled the country, Myanmar, was found. They are found off the coast of North Aceh (about 20 miles from the mainland) by the fishermen of North Aceh, Indonesia. Rohingya refugees are now been handled Immigration Indonesia and placed in the building of the former Immigration Lhokseumawe as temporary shelters.

 
In refugee camps, immigration authorities, assisted by the IOM (International Organization for Migration) provides everything that is in need of immigrants, ranging from clothing, food, blankets, medical teams, as well as sports facilities for immigrants. At first, the language barrier makes it difficult in the immigration record the name, origin, purpose and their motive escape from their country, because almost of all immigrants who speak no English active and passive, and the problem was solved after the IOM to bring Mr. Ahsan, a Translater from Bangladesh who can speak Rohingya. 
 
Based on what is presented by immigrants to Mr. Ahsan, they came from Aykkyab, a remote area of Myanmar. They chose to escape from their country because of discrimination by the Government of Myanmar military junta. Homes and their land was taken forcibly by the Myanmar military, Rohingya children should not attend school , do not get a resident card, religious discrimination and many other discrimination they experience. Therefore, they chose to migrate to Malaysia, to follow their brethren who have managed to enter Malaysia illegally. Unfortunately for them, in the middle way to Malaysia, their boat ran out of fuel causing them stranded for 13 days at sea, until finally discovered by fishermen in Aceh.


Rohingya tribe is a muslim ethnic that not recognized (by government and most citizens of Myanmar) as part of the native tribes of Myanmar, they are considered tribal Bengali (Bangladesh ethnic) brought by the British invaders 1000 years ago during the invasion of Burma. Now for a while, 55 immigrants can feel the serenity, exercise, joking and get proper treatment from the immigration Indonesia Indonesia government decided to act for them, if deported to their home countries, or sent to third countries who are willing to accommodate them.

Minggu, 24 Juli 2011

Pusong Baru, Kampung Nelayan yang Terlupakankah?

Sore itu, 7 Juli 2011, saya dan teman saya memutuskan untuk hunting ke Pusong Baru, sebuah perkampungan nelayan yang terletak di daerah pesisir pantai Kota Lhokseumawe – Aceh. Saya pribadi sangat tertarik karena memang sebelumnya tidak pernah sama sekali menginjakkan kaki di kampong nelayan tersebut, padahala saya lahir dan besar di kota ini, jadi ada keinginan besar dalam diri saya untuk bisa melihat dan berkeliling di perkampungan tsb. Pusong Baru, sebuah perkampungan nelayan seluas 20 Ha, dengan jumlah penduduk +- 6000 jiwa, yang sebagian besar penduduknya adalah nelayan tradisional yang merupakan penyuplai utama kebutuhan ikan segar untuk seluruh warga kota Lhokseumawe.

Perkampungan ini sangat kumuh, seperti tidak tersentuh program pembangunan pemerintah setempat. Lorong setapak yang kami lewati terbuat dari kayu dan banyak yang rusak hingga membuat kami harus berhati – hati agar tidak terjerembab jatuh saat menginjakkan kaki ke bagian lorong yang kayunya sudah rusak/lapuk. Setelah masuk lebih jauh ke perkampungan tsb, kami mendapati banyaknya sampah yang terapung hampir di seluruh bagian bawah rumah (rumah – rumah di perkampungan ini dibangun di atas perairan) yang ada di perkampungan ini. Anak – anak kecil bermain dengan ceria mencari kepiting kecil bersama  teman – temannya, berlarian saling berkejaran, dan para ibu saling mengobrol sambil melepas penat di depan rumah mereka.

Sungguh suatu realita yang sangat ironi, dimana perkampungan ini adalah sumber utama penghasil ikan segar untuk seluruh warga kota Lhokseumawe, akan tetapi mereka tinggal dan hidup bersama keluarga mereka ditempat yang sebenarnya tidak layak huni bagi siapapun. Apakah Pusong Baru terlupakan oleh Pemerintah setempat? Semoga tidak.

Jumat, 01 Juli 2011

Akordeon (Essay Foto)

Saat menghadiri acara resepsi pernikahan sepupu di Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, ada yang menarik perhatian saya saat para pemain music orkes melayu mulai mengisi panggung untuk memeriahkan suasana resepsi. Saat itu mata saya tertuju pada sebuah alat mirip piano, tapi bentuknya kecil dan memiliki leher seperti per, alat ini sebelumnya hanya pernah saya lihat di televisi. Langsung saya mengambil gambar alat music itu dan menghampiri pemiliknya, beliau bernama Aan, orang yang ramah dan sekilas memiliki kemiripan dengan salah seorang senior (bahkan bisa juga disebut guru) saya dibidang fotografi. Saat saya bertanya nama alat tersebut, beliau menjelaskan bahwa alat itu bernama Akordeon.
Akordeon merupakan alat music sejenis organ. Alat music ini berasal dari Eropa, relative kecil, dan dimainkan dengan cara digantungkan di leher. Pemusik memainkan tombol-tombol akord dengan jari-jari tangan kirinya., sedangkan tangan kanannya memainkan melodi lagu yang dibawakan. Pada saat dimainkan, akordeon didorong dan ditarik untuk menggerakkan udara di dalamnya. Pergerakan udara ini disalurkan ke lidah akordeon sehingga menimbulkan bunyi. Irama Akordeon ini biasa terdengar pada lagu-lagu melayu era 70-an.

Waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB, dimana di daerah tsb biasanya waktu dimulainya acara resepsi. Para pemain orkes Melayu ini pun mulai memainkan lagu-lagu Melayu andalannya, mulai dari “Laksmana Raja di Laot”, “Zapin”,  dan masih banyak lagi lagu yang tidak saya ketahui judulnya. Irama Akordeon yang dimainkan Bang Aan sangat merdu seirama dengan alat music lainnya, membawa saya seolah berada di tahun 70-an dimana lagu-lagu Melayu klasik dengan irama Arkodeon yang syahdu sangat popular. Ternyata Akordeon tidak hanya cocok untuk lagu-lagu Melayu saja, disaat ada permintaan dari para undangan resepsi untuk membawakan lagu yang berirama padang pasir seperti lagu “Habibi” pun, irama Akordeon ini sangat nikmat untuk didengar. Sungguh sebuah alat music yang memilki irama yang sangat khas.